Minggu, 07 Juni 2020

Wawancara dan Reportase untuk Berbagai Konteks

02.36

A. Reportase
1. Reportase terencana

Merupakan proses reportase menyangkut hal-hal yang telah ditentukan
sebelumnya, dalam peliputan ini fakta, peristiwa, dan data bisa diperoleh lebih lengkap
dan akurat.
Reportase terencana lebih mudah tetapi penuh dengan tantangan. Karena
ssudah terduga dan terencana, maka fakta peristiwa dan data dapat diperoleh lebih
lengkap dan akurat. Reportase ini dapat berupa siaran news, seperti: siaran langsung,
debat public, feature, investigasi.
2. Reportase tidak terencana

Merupakan proses reportase menyangkut hal-hal yang tidak terduga atau belum
direncanakan sebelumnya. Seperti kecelakaan lalu lintas, bencana alam, dan kejadian
tidak terduga lainnya.
Reportase tidak terencana juga bisa merupakan penugasan mendadak dari
redaksi, sehingga mau tidak mau seorang reporter harus terjun langsung kelapangan.
Dalam konteks wawancara dan repostase bencana, media massa memiliki peran
dalam konteks penebritaan pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana. Jurnalis
yang menjadi ujung tombak media massa di lokasi bencana menjadi aktor penting dalam
tiga konteks pemberitaan bencana ini.
Saat pra bencana, jurnalis yang terjun ke lokasi bencana bertanggung jawab
untuk memberikan informasi terkini yang akurat kepada masyarakat di sekitar lokasi
bencana yang memiliki potensi terdapat bencana.
Sedangkan saat bencana terjadi, jurnalis harus mampu memberikan informasi
yang valid mengenai lokasi bencana, jumlah korban, potensi bencana susulan, area yang
bisa menjadi jalur dan tempat evakuasi, sehingga dapat berdampak langsung maupun
tidak langsung.
Pasca bencana, jurnalis harus mampu memberikan informasi yang menunjang
program pemulihan bagi korban yang terdampak bencana.

B. Wawancara
Steward & Cash (1982) mendefinisikan wawancara sebagai sebuah proses
komunikasi interpersonal, dengan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya, bersifat
serius, yang dirancang agar tercipta interaksi yang melibatkan aktivitas bertanya dan
menjawab pertanyaan.
Wawancara dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya
 Live interview
Interview ini dilakukan di studio dengan mengundang orang yang akan di
wawancarai.
 Interview by appointment
Pewawancara melakukan wawancara di kediaman orang yang diwawancarai.
 Press conferences/press briefieng
Wawancara ini dilakukan pada saaat berlangsungnya suatu konferensi pers.
Singh (2002) menuliskan bahwa terdapat dua macam wawancara yaitu
wawancara formal dan informal. Wawancara formal atau disebut juga wawancara
terstruktur adalah sebuah prosedur sistematis untuk menggali informasi mengenai
responden dengan kondisi dimana satu set pertanyaan ditanyakan dengan urutan yang
telah disiapkan oleh pewawancara dan jawabannya direkam dalam bentuk yang
terstandardisasi.
Wawancara informal adalah sebuah wawancara dimana tidak dipersiapkan
terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan, tidak ada persiapan urutan pertanyaan, dan
pewawancara yang berkuasa penuh untuk menentukan pertanyaan sesuai dengan poin-
poin utama (Singh, 2002)
Kelebihan wawancara formal adalah metode ini biasanya mempunyai validitas
yang lebih tinggi dibandingkan wawancara informal. Akan tetapi, metode ini juga
mempunyai setidaknya dua kelemahan. Pertama, prosedur melaksanakan wawancara
tipe ini membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang lama. Kedua, validitas
wawancara formal biasanya lebih rendah dibandingkan beberapa metode lain seperti

analisa biodata, ataupun tes psikologis yang terstandardisasi (Guilford, dalam Singh,
2002).
Kelebihan wawancara informal, pertama karena sifatnya yang lebih fleksibel
dalam mengumpulkan data sehingga wawancara informal lebih sering digunakan
dibanding wawancara formal. Kedua, dengan metode wawancara informal
pewawancara dapat menggali data lebih dalam, sehingga mendapatkan pemahaman
yang lebih banyak atas orang yang di wawancara. Namun wawancara informal juga
memiliki kelemahan, diantaranya pertama, pada wawancara informal terdapat
kemungkinan pengaruh pribadi dan bias yang besar dari pewawancara dibandingkan
dengan wawancara formal. Kedua, wawancara jenis ini membutuhkan kemampuan yang
lebih tinggi. Pewawancara diharapkan berlaku diplomatis, cerdas, mempunyai
keterampilan sosial yang tinggi, dan memiliki pengetahuan yang tinggi atas substansi
yang diteliti. Ketiga, data yang didapat dari wawancara informal sulit untuk
dikuantifikasikan dan sulit dianalisa.
Wawancara Kerja

Wawancara kerja adalah suatu jenis tahapan dalam seleksi kerja yang
melibatkan percakapan antara pelamar/pencari kerja dengan pihak perwakilan dari
organisasi yang mempekerjakan untuk melihat, apakah calon pekerja merupakan
kandidat yang tepat atau tidak. Sebelum tahap wawancara kerja biasanya didahului oleh
evaluasi rangkuman riwayat hidup tiap pencari kerja, kemudian perusahaan akan
memilih sejumlah kecil kandidat untuk melakukan proses selanjutnya yaitu wawancara
kerja. Sampai saat ini wawancara kerja masih dipandang sebagai salah satu proses yang
paling penting bagi perusahaan untuk mengevaluasi karyawan potensial yang di
diperlukan oleh perusahaan. Dalam tahap wawancara kerja memungkinkan calon
karyawan untuk dapat mendapatkan informasi seputar budaya kerja dan peraturan-
peraturan dalam sebuah perusahaan.

Sumber :

Hastuti, Nur, Rochimah, Tri dan Junaedi Fajar. 2014. Peliputan dan Reportase Televisi di Lokasi
Bencana: Sebuah Pengalaman dari Merapi 2010. Vol.4 No.1
Nul, Hakim, Lukman. 2013. Ulasan Metode Kualitatif: Wawancara Terhadap Elit. Vol.4 No.2

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

0 komentar:

Posting Komentar

 

© 2016 HASAN ARRIZQI. All rights resevered. Designed by Templateism | Blogger Templates

Back To Top